UCHY

Loading...

Minggu, 27 Januari 2013

Penggunaan power point dalam pembelajaran bahasa Arab untuk meningkatkan Motivasi belajar



 BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang Masalah
Berdasarkan situasi masyarakat yang dinamis, idealnya pendidikan tidak hanya berorientasi pada masa lalu dan masa kini, tetapi sudah  seharusnya merupakan proses yang mengantisipasi dan membicarakan masa depan. Pendidikan hendaknya jauh memandang ke depan dan memikirkan apa apa yang akan dihadapi peserta didik di masa yang akan datang.  Menurut Buchori yang dikutip oleh Trianto, bahwa “pendidikan yang baik adalah pendidikan yang tidak hanya mempersiapkan para siswanya untuk suatu profesi atau jabatan, tetapi juga untuk menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapinyta dalam kehidupan sehari-hari”.[1]
Salah satu masalah pokok dalam pembelajaran pada pendidikan formal di era globalisasi ini adalah “masih rendahnya pencapaian peserta didik terhadap Ketuntasan Kompetensi Minimal (KKM), hal ini nampak jelas dari hasil belajar peserta didik yang masih memprihatinkan”.[2] Prestasi ini tentunya merupakan hasil kondisi pembelajaran yang masih bersifat konvensional dan tidak menyentuh rana peserta didik, yaitu bagaimana sebenarnya belajar itu (belajar untuk belajar). Dalam arti yang lebih subtansial, bahwa proses pembelajaran hingga saat ini masih memberikan dominasi kepada pendidik dan tidak memberikan akses bagi anak didik untuk berkembang secara mandiri melalui penemuan dan proses berpikirnya.
Penyebab lain dari rendahnya pencapaian hasil belajar peserta didik adalah kurangnya perhatian mereka terhadap pelajaran akibat dari metode, strategi, serta media yang digunakan oleh pendidik dalam kegiatan pembelajaran kurang bervariasi.
Pendidikan bahasa Asing merupakan salah satu objek pendidikan yang sangat populer dewasa ini. Menguasai bahasa Asing memiliki kebanggaan khusus bagi individu yang bersangkutan.
Sedangkan menurut Aristoteles sebagaimana dikutip oleh Sumarsono, “bahasa adalah alat untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan manusia. Artinya, bahasa baru ada kalau sesuatu yang ingin diungkapkan, yaitu pikiran atau perasaan. Dengan kata lain, pikiran mempengaruhi bahasa”.[3]      
Bahasa Arab merupakan salah satu bahasa Asing yang sudah menjadi satu mata pelajaran wajib dan dikembangkan ke dalam beberapa bagian khusus untuk pondok pesantren. Sedangkan untuk sekolah yang berada di bawah naungan kementerian agama, mata pelajaran ini masih dalam kemasan umum yaitu mata pelajaran bahasa Arab. Bahkan beberapa tahun terakhir ini sekolah-sekolah naungan dinas pendidikan juga mulai menetapkan bahasa Arab sebagai mata pelajaran bahasa Asing. Jadi tidak heran jika banyak ditemukan peserta didik yang berlatar belakang sekolah umum mampu berbahasa Arab.
Mencintai dan mempelajari bahasa Arab memiliki manfaat yang sangat besar yaitu, dengan ilmu ini manusi mampu mempelajari dan memahami al-Qur’an dan hadits dengan baik dan benar serta dapat mengamalkannya berdasarkan pengetahuan yang dimilikinya.
Melihat betapa pentingnya bahasa Arab sebagaimana tersebut di atas, maka Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Parepare sebagai lembaga Islam yang bergerak dalam bidang pendidikan dan da’wah, berusaha untuk ikut berperan dalam menyebarkan dan melestarikan visi dan misi da’wah Rasulullah SAW. Sekolah tersebut mengajarkan kepada para siswanya untuk dapat menguasai bahasa Arab dengan baik dan benar.
Permasalahan yang dihadapi adalah, cara meningkatkan kualitas pengajaran bahasa Arab di MAN 2 Parepare. Bahasa Arab oleh sebagian besar peserta didik dianggap sebagai salah satu mata pelajaran yang sulit, mereka memandangnya sebagai mata pelajaran yang menakutkan, hal ini diindikatorkan dengan rendahnya minat mengikuti mata pelajaran bahasa Arab dibandingkan dengan mata pelajaran yang lainnya. Ini merupakan suatu bentuk tantangan yang harus segera diupayakan pemecahannya oleh semua pelaksana pendidikan yang memerogramkan bahasa Arab, khususnya para guru mata pelajaran bahasa Arab di MAN 2 Parepare.
Dalam pembelajaran bahasa Arab, media merupakan alat penunjang pembelajaran yang sangat penting digunakan demi peningkatan mutu pendidikan sebagaimana yang telah ditetapkan dalam UU nomor 20 tahun 2003 pasal 3 tentang fungsi dan tujuan Pendidikan Indonesia:
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.[4]

Hal tersebut yang mendorong kuat penulis untuk mengadakan sebuah penelitian dengan judul Penggunaan Power Point dalam Pembelajaran Bahasa Arab untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Peserta Didik MAN 2 Parepare.

B.       Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka dapat diidentifikasikan beberapa masalah sebagai berikut:
1.    Pemanfaatan media masih sangat kurang dalam proses pembelajaran bahasa Arab sehingga proses pembelajaran kurang menarik para peserta didik.
2.    Peserta didik kurang termotivasi untuk mengikuti proses pembelajaran dengan baik.

C.      Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah dan identifikasi masalah di atas, maka permasalah yang terkait dan akan menjadi focus penelitian adalah:
1.    Bagaimana penggunaan Power Point dalam pembelajaran bahasa Arab di  MAN 2 Parepare?
2.    Apakah penggunaan Power Point dalam pembelajaran bahasa Arab dapat meningkatkan motivasi belajar peserta didik MAN 2 Parepare?

D.      Cara Pemecahan Masalah
Untuk memecahkan masalah di atas, maka langkah yang harus ditempuh adalah menggunakan media power point dalam pembelajaran bahasa Arab agar peserta didik termotivasi untuk belajar bahasa Arab secara aktif. Design power point yang digunakan lebih bervatiatif.

E.       Hipotesis Tindakan
Hipotesis dalam penelitian tindakan bukan hipotesis perbedaan atau hubungan melainkan hipotesis tindakan. Rumusan hipotesis tindakan memuat tindakan yang diusulkan untuk menghasilkan perbaikan yang diinginkan.
Dalam penelitian ini, yang menjadi hipotesis adalah “Penggunaan Power Point dalam Pembelajaran Bahasa Arab mampu Meningkatkan Motivasi Belajar Peserta Didik MAN 2 Parepare.”
F.       Tujuan Penulisan
Penelitian ini memiliki dua tujuan yaitu untuk:
1.    Mengetahui penggunaan Power Point dalam pembelajaran bahasa Arab di  MAN 2 Parepare.
2.    Mengetahui tingkat motivasi belajar bahasa Arab peserta didik MAN 2 Parepare melalui pembelajaran dengan media power point.
G.      Manfaat Penulisan
Hasil penelitian ini memberi dua manfaat, yaitu manfaat yang berupa sumbangan teoretis dan manfaat yang berupa sumbangan praktis.
1.     Manfaat teoretis
Penelitian ini memiliki dua  manfaat teoretis.
a.    Dengan hasil belajar peserta didik, akan diketahui tolok ukur tingkat motivasi belajar.
b.    Dengan persentase motivasi belajar peserta didik melalui media power point, maka diketahui tingkat keefektifan media ini terhadap peningkatan motivasi belajar.
2.    Manfaat praktis
Penelitian ini memiliki tiga manfaat praktis.
a.    Memberi pemahaman dan pengetahuan bagi para guru mengenai pentingnya media dalam pembelajaran yang memfokuskan pada peningkatan minat belajar peserta didik sehingga dalam pembelajaran di kelas peserta didik diharapkan dapat melakukan pembelajaran secara efektif dan efisien.
b.    Manfaat bagi peneliti, penelitian ini sebagai wahana untuk mengaplikasikan ilmu yang diperoleh dalam bangku perkuliahan yang diwujudkan dalam dunia nyata.
c.    Manfaat bagi keilmuan, sebagai sumbangan bagi perkembangan keilmuan terutama untuk proses pembelajaran dan bidang ilmu kebahasaan, khususnya dalam memotivasi peserta didik dalam dalam belajar.



[1]Trianto, Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik, cet; I, (Jakarta: Prestasi pustaka, 2007), h.1

[2] Ibid


[3] Sumarsono, Buku Ajar Filsafat Bahasa,  (Jakarta: Grasido, 2004), h. 58.

[4] Undang-Undang Republik Indonesia No.20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, (Jakarta: Panca Usaha, 2003).
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.      Media Pembelajaran
Media berasal dari bahasa Latin dan merupakan bentuk jamak dari “medium” yang secara harfiah berarti perantara atau penyalur. Artinya “media merupakan wahana penyalur pesan atau informasi”.[1] Secara harfiah kata media memiliki arti “perantara” atau “pengantar”. Association for Education and Communication Technology  (AECT) mendefinisikan media yaitu “segala bentuk yang dipergunakan untuk suatu proses penyaluran informasi”.[2] Menurut Gagne media adalah “berbagai jenis komponen dalam lingkungan peserta didik untuk belajar”.[3]
Media pembelajaran dalam arti luas yaitu setiap orang, materi, atau peristiwa yang memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Sedangkan dalam arti sempit, media pembelajaran adalah sarana nonoperasional (bukan manusia) yang digunakan oleh pendidik yang memegang perana dalam proses belajar mengajar untuk mencapai tujuan.[4]

Dari beberapa pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran merupakan al wasilah (penyalur) materi pembelajaran kepada peserta didik sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.

Pada dasarnya media pembelajaran tersebut digunakan oleh para guru untuk:
1.    Memperjelas informasi atau pesan pengajaran
2.    Memberi tekanan pada bagian-bagian yang penting
3.    Memberi variasi pengajaran
4.    Memperjelas struktur pengajaran
5.    Memotivasi proses belajar siswa.[5]

Jadi, media berfungsi sebagai alat bantu bagi pendidik dalam melaksanakan proses belajar mengajar. Ada beberapa manfaat media dalam proses belajar mengajar sebagai berikut:
1.    Media dapat mengatasi berbagai keterbatasan pengalaman yang dimiliki peserta didik.
2.    Media dapat mengatasi ruang kelas
3.    Media dapat memungkinkan adanya interaksi langsung antara peserta didik dengan lingkungan.
4.    Media menghasilkan keseragaman pengamatan.
5.    Media dapat menanamkan konsep dasar yang benar, konkrit, dan realistis.
6.    Media dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru bagi peserta didik dan pendidik.
7.    Media dapat membangkitkan motivasi dan merangsang peserta didik untuk belajar.
8.    Media dapat memberikan pengalaman yang integral dari suatu yang konkrit sampai kepadanya yang abstrak.
B.       Power Point
Power Point atau Microsoft Office PowerPoint adalah “sebuah program komputer untuk presentasi”.[6] PowerPoint inilah yang dikembangkan oleh Microsoft di dalam paket aplikasi kantoran mereka, Microsoft Office, selain Microsoft Word, Excel, Access dan beberapa program lainnya. PowerPoint berjalan di atas komputer PC berbasis sistem operasi Microsoft Windows dan juga Apple Macintosh yang menggunakan sistem operasi Apple Mac OS, meskipun pada awalnya aplikasi ini berjalan di atas sistem operasi Xenix. Aplikasi ini sangat banyak digunakan, apalagi oleh kalangan perkantoran dan pebisnis, para pendidik, peserta didik, dan trainer untuk presentasi.
Pakar Information Teknologi (IT) yang juga memberi pengertian yang tidak jauh berbeda dengan pengertian yang terdahulu, yaitu Microsoft Office PowerPoint adalah sebuah program komputer untuk presentasi yang dikembangkan oleh Microsoft di dalam paket aplikasi kantoran mereka, Microsoft Office, selain Microsoft Word, Excel, access dan beberapa program lainnya.[7] PowerPoint berjalan di atas komputer PC berbasis Sistem Operasi Microsoft Windows dan juga Apple Manchitos yang menggunakan sistem operasi Apple Mac OS, meskipun pada awalnya aplikasi ini berjalan di atas sistem operasi Xenix. Aplikasi ini sangat banyak digunakan, apalagi oleh kalangan perkantoran dan pebisnis, para pendidik, peserta didik, dan trainer. Dimulai pada versi Microsoft Office System 2003, Microsoft mengganti nama dari sebelumnya Microsoft PowerPoint saja menjadi Microsoft Office PowerPoint. “Versi terbaru dari PowerPoint adalah versi 12 (Microsoft Office PowerPoint 2007), yang tergabung ke dalam paket Microsoft Office System 2007”.[8] Sedangkan Abdul Wahab Rosyidi dalam bukunya menjelaskan bahwa “Microsoft Powerpoint 2007 adalah program aplikasi presentasi yang merupakan salah satu aplikasi di bawah Microsoft Office”.[9]
PowerPoint dapat menyimpan presentasi dalam beberapa format, yakni sebagai berikut:
1.    PPT (PowerPoint Presentation), yang merupakan data biner dan tersedia dalam semua versi PowerPoint (termasuk PowerPoint 12).
2.    PPS (PowerPoint Show), yang merupakan data biner dan tersedia dalam semua versi PowerPoint (termasuk PowerPoint 12).
3.    POT (PowerPoint Template), yang merupakan data biner dan tersedia dalam semua versi PowerPoint (termasuk PowerPoint 12).
4.    PPTX (PowerPoint Presentation), yang merupakan data dalam bentuk XML dan hanya tersedia dalam PowerPoint 12.[10]

Keuntungan lain dari program ini adalah sederhananya tampilan ikon-ikon. Ikon-ikon pembuatan presentasi kurang lebih sama dengan ikon-ikon Microsoft Word yang sudah dikenal oleh kebanyakan pemakai komputer. Pemakai tidak harus mempelajari bahasa pemrograman.
Presentasi memiliki beberapa tujuan. Tujuan presentasi akan sangat menentukan bagaimana kita akan melakukan dan mendesain presentasi. Tujuan presentasi tersebut adalah sebagai berikut:
1.    Menginformasikan: Presentasi berisi informasi yang akan disampaikan kepadaorang lain. Presentasi semacam ini sebaiknya menyampaikan informasi secaradetail dan jelas (clear) sehingga orang dapat menerima informasi dengan baik dan tidak salah presepsi terhadap informasi yang diberikan tersebut.
2.    Meyakinkan: Presentasi berisi informasi, data, dan bukti-bukti yang disusunsecara logis sehingga menyakinkan orang atas suatu topik tertentu. Kondradiksidan ketidakjelasan informasi dan penyusunan yang tidak logis akan mengurangikeyakinan orang atas presentasi yang diberikan.
3.    Membujuk : Presentasi yang berisi informasi, data, dan bukti-bukti yang disusunsecara logis agar orang mau melakukan suatu aksi/tindakan. Presentasi dapat berisi bujukan, atau rayuan yang disertai dengan bukti-bukti sehingga orang merasa tidak ragu dan yakin untuk melakukan suatu tindakan.
4.    Menginspirasi: Presentasi yang berusaha untuk membangkitkan inspirasi orang.
5.    Menghibur: Presentasi yang berusahan untuk memberi kesenangan pada orang melalui informasi yang diberikan. [11]

Jadi, media power point ini merupakan media yang sangat tepat digunakan dalam proses belajar mengajar untuk membangkitkan dan meningkatkan motivasi belajar peserta didik.

C.   Pembelajaran bahasa Arab
Sebelum lebih lanjut membahas tentang pembelajaran bahasa Arab, maka terlebih dahulu penulis menguraikan beberapa pendapat para pakar pendidikan mengenai pembelajaran.
Konsep pembelajaran menurut Corey “Suatu proses dimana lingkungan seseorang secara sengaja dikelola untuk memungkinkan ia turut serta dalam tingkah laku tertentu dalam kondisi-kondisi khusus atau menghasilkan respon terhadap situasi tertentu, pembelajaran merupakan subset khusus dari pendidikan”[12]

Konsep yang disampaikan oleh Corey di atas dapat dipahami bahwa pembelajaran adalah proses yang dikelolah oleh masyarakat dan adapun yang dimaksud sebagai masyarakat disini adalah para tenaga pendidik dan pengelolah lembaga pendidikan. Adapun pembelajaran ini merupakan bagian dari pendidikan itu sendiri.
Disamping itu, Bahauddin juga mengutarakan pengertian pembelajaran dalam buku yang berjudul Metodologi pembelajaran Bahasa Arab. Menurut beliau, pembelajaran adalah proses untuk membantu santri agar dapat belajar.[13]
Berdasarkan beberapa buku yang membahas tentang sejarah bahasa Arab, maka dapat disimpulkan bahwa bahasa Arab termasuk rumpun bahasa Smit yaitu bahasa digunakan bangsa-bangsa yang bermukim di sekitar Sungai Tigris dan Furat, dataran Syriah dan Jazirah Arabiah (Timur Tengah) seperti bahasa Finisiah, Asyria, Ibrania, Arabia, Suryania, dan Babilonia. Ada beberapa hal yang menjadi ciri khas bahasa Arab yang merupakan kelebihan yang tidak terdapat pada bahasa lainnya, di antaranya adalah:
1.    Jumlah abjad yang sebanyak 28 huruf dengan makharijul huruf (tempat keluarnya huruf) yang tidak ada pada bahasa lainnya.
2.    I’rab, yakni sesuatu yang mewajibkan keberadaan akhir kata pada keadaan tertentu.
3.    Ilmu ‘Arudl (ilmu notasi syi’ir) yang mana dengan ilmu ini menjadikan syi’ir berkembang dengn perkembangan yang sempurna.
4.    Bahasa Ammiyah dan Fush-ah, Ammiyah dipergunakan dalam interaksi jual beli atau komunikasi dalam situasi tidak formal sedang fush-ah adalah bahasa sastra dan pembelajaran, bahasa resmi yang dipergunakan dalam percetakan.[14]

Bahasa Arab ini merupakan bahasa Asing. Belajar bahasa Arab merupakan suatu usaha yang berat dan menjenuhkan yang kadang kala membuat orang frustasi. Hal itu disebabkan karena belajar Arab merupakan upaya untuk membentuk dan membangun situasi dan kondisi baru pada diri peserta didik.
Dalam pembelajaran bahasa Arab, ada empat keterampilan yang dimiliki yaitu; keterampilan istima’, kalam, qira’ah, dan kitabah. Keempat keterampilan inilah yang menjadi tolak ukur keberhasilan pembelajaran bahasa Arab. Karena keempatnya memiliki keterkaitan yang saling mempengaruhi.

D.  Motivasi belajar
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, dijelaskan bahwa motivasi adalah dorongan yang timbul pada diri seseorang sadar atau tidak sadar untuk melakukan suatu tindakan dengan tujuan tertentu.[15] Selain itu, juga disebutkan bahwa motivasi merupakan usaha-usaha yang dapat menyebabkan seseorang atau kelompok orang tertentu tergerak melakukan sesuatu karena ingin mencapai tujuan yang dikehendakinya atau mendapat kepuasan dengan perbuatannya.[16]
Motivasi merupakan salah satu unsur yang sangat penting dalam belajar dan juga termasuk unsur yang tergolong sulit diukur. “Istilah motivasi berasal dari kata motif yang dapat diartikan sebagai kekuatan yang terdapat dalam diri individu, yang menyebabkan individu tersebut bertindak atau berbuat”.[17]
Adanya dorongan dalam diri manusia untuk berbuat, memenuhi kebetuhan hidupnya disebut sebagai motif. Dapat dikatakan motif sebagai kekuatan yang ada dalam diri manusia yang menyebabkannya bertindak atau berbuat untuk memenuhi kebutuhannya ataupun mencapai tujuan tertentu. Motif lebih menekankan pada dorongan internal dalam diri individu seperti halnya:
1.    Organic motives (makan, minum, seks, dan istirahat).
2.    Emergency motives (melepaskan diri dari bahaya, melawan/ mengatasi rintangan).
3.    Objective motives (menjalin relasi sosial dengan sesama lingkungannya).[18]
Maslow mengungkapkan tentang teori kepribadian berdiri di atas sejumlah asumsi dasar tentang motivasi. Pertama, Maslow melakukan pendekatan holistis terhadap motivasi yaitu seluruh orang, bukan satu bagian atau fungsi tunggalnya saja yang termotivasi. Kedua, motivasi biasanya bersifat kompleks, artinya prilaku seseorang dapat muncul dari beberapa motif yang terpisah. Ketiga, adalah manusia termotivasi secara terus-menerus oleh satu kebutuhan atau kebutuhan lainnya. Keempat, semua orang di mana pun termotivasi oleh kebutuhan-kebutuhan yang sama. Kelima, atau terakhir tentang motivasi adalah kebutuhan dapat disusun dalam bentuk hierarki.[19]

Mengenai motif ini, ada beberapa teori yang memberikan gambaran tentang seberapa jauh peranan dari stimulus internal dan eksternal. Teori-teori ini antara lain:
1.    Teori insting
2.    Teori dorongan
3.    Teori gejolak
4.    Teori insentif.[20]
Belajar bukanlah aktivitas yang menyenangkan, belajar tak seindah bermain, belajar tak secantik barbie, belajar bukanlah mobil-mobilan, belajar tak semanis permen gulali, dan belajar bukan es krim lembut berasa cokelat. Lalu apa itu belajar?
“Keinginan siswa untuk belajar sesungguhnya merupakan hasil dari beberapa faktor, dari persoalan keperibadian, kemampuan, hingga persoalan karakteristik tugas-tugas belajar, insentif, lingkungan, orang tua, prilaku guru dalam mengajar, termasuk metode dan media yang dipilihnya ketika proses belajar mengajar”.[21]
Dorongan serta motivasi sangat dibutuhkan bagi mereka yang harus diberikan secara total dan tidak hanya sebatas ucapan saja tetapi dapat berupa sentuhan kasih sayang yang mampu membangkitkan semangat belajar. Dalam hal ini, peranan orang tualah yang sangat dibutuhkan bagi anak-anak mereka. Walaupun demikan, motivasi dalam belajar selain ekstrinsik, ada pula instrinsik.
Sedangkan bagi seorang pendidik untuk menciptakan motivasi belajar bagi peserta didik, hal-hal tersebut juga dapat dilakukan dalam kegiatan belajar mengajar. Karena pendidik merupakan orang tua bagi peserta didiknya. Selain hal tersebut, penggunaan metode, strategi, dan media hendaknya variatif dan sesuai dengan materi yang disampaikan. Motivasi ini harus dilakukan secara terus-menerus untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Penguatan motivasi tersebut berada di tangan para guru/ pendidik dan anggota masyarakat lain. Jadi, pendidik merupakan unsur dasar pendidikan yang sangat berpengaruh terhadap proses pendidikan dan sebuah motto dalam pendidikan mengatakan bahwa:
  الطِّرِيْقَةُ اَهَمُّ مِنَ الْمَدَّةِ وَلَكِنْ المُدَرِّسُ اَهَمُّ مِنَ الطَّرِيْقَةِ

Artinya:
“Metode [pembelajaran] lebih penting daripada materi [belajar], akan tetapi eksistensi guru [dalam proses belajar mengajar] jauh lebih penting daripada metode [pembejaran] itu sendiri”[22]
Penguatan motivasi belajar dari pendidik dapat dilihat pada bagan berikut:
           1.1  Rekayasa pedagogis pendidik







Text Box: 5
Dampak Pengajaran

 


          3.1  Penguatan motivasi:
                  Hadiah, hukuman, dan lain-lain











 




Text Box: 2
Peserta didik
Text Box: 8
Hasil belajar sepanjang hayat
Text Box: 7
Program belajar sepanjang hayat
Text Box: 6
Dampak pengiring
3.2. Penghayatan motivasi:
Tambah semangat, berkompetensi, berkooperasi dalam belajar
Peta konsep Emansipasi kemandirian sepanjang hayat[23]

Adapun maksud dari bagan tersebut yaitu melukiskan prilaku belajar yang mengandung motivasi belajar, yang dikelolah oleh pendidik dan dihayati oleh peserta didik. Bagan tersebut melukiskan hal berikut:
1.    Pendidik adalah pendidik yang berperan dalam rekayasa pedagogis. Ia menyusun desain pembelajaran, dan dilaksanakan dalam proses belajar mengajar. Pendidik bertindak membelajarkan peserta didik yang memiliki motivasi instrinsik.

2.    Peserta didik adalah pebelajar yang paling berkepentingan dalam menghayati belajar. Ada peserta didik yang telah berkeinginan memperoleh pengalaman, keterampilan dan pengetahuan sejak kecil. Peserta didik tersebut memiliki motivasi instrinsik. Peserta didik yang lain baru memiliki keinginan memperoleh pengalaman, keterampilan, dan pengetahuan berkat teman sebayanya. Mereka inoi memiliki motivasi ekstrinsik.
3.    Dalam proses belajar mengajar, pendidik melakukan tindakan mendidik seperti memberi hadiah, memuji, menegur, menghukum, atau memberi nasihat. Tindakan pendidik tersebut berarti menguatkan motivasi intrinsik, tindakan guru juga tersebut berarti mendorong peserta didik belajar, suatu penguatan motivasi ekstrinsik. Peserta didik tertarik belajar karena ingin memperoleh hadiah atau menghindari hukuman.
4.    Dengan belajar yang bermotivasi, peserta didik memperoleh hasil belajar. Hasil belajar dapat dikategorikan sebagai hasil belajar sementara, bagian, tak lengkap, atau yang lengkap. Dari segi rekayasa, maka hasil belajar tersebut dibedakan menjadi dua yaitu dampak pengajaran dan dampak pengiring.
5.    Dampak pengajaran adalah hasil belajar yang segera dapat diukur dan terwujud.
6.    Dampak pengiring adalah unjuk kerja siswa setelah mereka lulus ujian atau merupakan transfer hasil belajar di sekolah. Dampak pengiring merupakan sarana untuk melakukan emansipasi kemandirian peserta didik.
7.    Setelah peserta didik lulus, maka sebaiknya melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi lagi hingga sepanjang hayat.
8.    Dengan memprogramkan belajar sendiri secara berkesinambungan, maka ia memperoleh hasil belajar atas tanggung jawab sendiri. Ditinjau dari segi peserta didik sebagai peserta didik, maka emansipasi kemandirian berupa rangkaian program belajar sepanjang hayat.[24]
Dalam interaksi belajar mengajar, motivasi merupakan faktor pendorong dalam belajar untuk meraih prestasi bagi peserta didik. Sedangkan bagi pendidik, hal tersebut merupakan upaya pengembangan dan peningkatan pengetahuan dan keterampilan untuk tercapainya tujuan pembelajaran. Maka dari itu motivasi sangat penting ditumbuhkan dan dimiliki bahkan ditingkatkan oleh setiap peserta didik.
Pendidik dan orang tua adalah motivator untuk anak-anak dan peserta didiknya.  Motivasi berfungsi untuk:
1.    Mendorong timbulnya kelakuan atau suatu perbuatan.
2.    Mengarahkan perbuatan pada pencapaian tujuan yang diharapkan.
3.    Menggerakkan cepat atau lambatnya pekerjaan seseorang.[25]
Dalam garis besarnya penulis sepakat dengan pendapat Hamalik bahwa motivasi dalam pengajaran mengandung nilai-nilai sebagai berikut.
1.    Motivasi menentukan tingkat berhasil atau gagalnya perbuatan belajar murid.
2.    Pengajaran yang bermotivasi pad hakikatnya adalah pengajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan, dorongan, motif, minat yang ada pada peserta didik.
3.    Pengajaran yang bermotivasi menuntut kreativitas dan imajinasi pendidik untuk berusaha secara sungguh-sungguh mencari cara-cara yang relevan dan sesuai guna membangkitkan dan memelihara motivasi belajar peserta didik.
4.    Berhasil atau gagalnya dalam membangkitkan dan menggunakan motivasi dalam pengajaran erat pertaliannya dengan pengaturan disiplin kelas.
5.    Asas motivasi menjadi salah satu bagian yang integral daripada asas-asas mengajar.[26]

Motivasi pada dasarnya dapat membantu dalam memahami dan menjelaskan prilaku individu, termasuk individu yang sedang belajar. Berdasarkan beberapa pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa motivasi memiliki peranan penting dalam proses pembelajaran utamanya dalam menentukan hal-hal yang dapat dijadikan sebagai kekuatan dalam kegiatan belajar mengajar, mengerucutkan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai, serta mentukan ketekunan belajar yang akan melahirkan prestasi belajar.
Adapun beberapa judul penelitian yang relevan dengan penelitian ini yaitu:
1.    Kontribusi pengelolaan pembelajaran terhadap peningkatan motivasi belajar siswa MA DDI Kanang oleh Rahmatiah.
2.    Peranan Buku Paket Dalam Upaya Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa di MI DDI Lapeo Kec. Campalagian Kab.Polewali Mandar oleh Nurlianta Masa.
3.    Peranan wali kelas dalam meningkatkan motivasi belajar bidang studi pendidikan Agama Islam (PAI) oleh Ati Cela

E.       Variabel dan Definisi Operasional
1.    Variabel
Adapun variabel dalam penelitian ini adalah:
a.    Pengunaan Power Point dalam Pembelajaran Bahasa Arab.
b.    Meningkatkan Motivasi Belajar.
2.    Definisi operasional
Untuk menghindari kesalah pahaman serta terjadinya multi tafsir dari judul penelitian “ Pengunaan Power Point dalam Pembelajaran Bahasa Arab untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Peserta Didik MAN 2 Parepare.” Maka penulis perlu memaparkan defenisi operasional yang dimaksud oleh penulis dari beberapa istilah tersebut sebagai berikut:
a.    Penggunaan power point dalam pembelajaran bahasa Arab.
Power point adalah sebuah program komputer yang berupa slide dan pada umumnya digunakan untuk presentasi. Adapun yang dimaksud oleh peneliti dalam penelitian ini adalah sebuah media presentasi yang dibuat dengan desain menarik dan bervaritif dalam pembelajaran bahasa Arab.
b.        Peningkatan motivasi belajar.
Dalam pembelajaran dengan berbasis media presentasi ini peserta didik akan diupayakan adanya peningkatan motivasi belajar peserta didik dalam belajar bahasa Arab. Untuk mengukur tingkat motivasi peserta didik, peneliti menggunakan tiga indikator yaitu perhatian, partisipasi, dan keberadaan di kelas dengan klasifikasi jawaban sangat tinggi, tinggi, rendah, dan sangat rendah. Ketiga komponen tersebut merupakan tolok ukur peningkatan motivasi belajar peserta didik kelas XI IPA1 MAN 2 Parepare.
BAB III
METODE PENELITIAN
A.      Jenis dan Desain Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian lapangan dengan menggunakan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK).
Penelitian Tindakan Kelas yang disingkat dengan PTK ini didefinisikan oleh Hopki bahwa PTK adalah suatu bentuk kajian yang bersifat reflektif, yang dilakukan oleh pelaku tindakan untuk meningkatkan kemantapan rasional dari tindakan-tindakannya dalam melaksanakan tugas dan memperdalam pemahaman terhadap kondisi dalam praktik pembelajaran.[1] Sedangkan menurut Suyanto, PTK adalah suatu bentuk penelitian yang bersifat reflektif dengan melakukan tindakan-tindakan tertentu agar dapat memperbaiki dan/atau meningkatkan praktik-praktik pembelajaran di kelas secara profesional.[2]
Penelitian tindakan bertujuan untuk memberikan kontribusi kepada kepedulian praktis dari orang dalam situasi problematis secara langsung dan untuk tujuan lebih lanjut dari suatu ilmu sosial (termasuk pendidikan) secara serempak.[3]
PTK ini dilaksanakan melalui dua siklus untuk melihat peningkatan motivasi belajar peserta didik dalam mengikuti pelajaran bahasa Arab. Dalam setiap siklus ada empat komponen yang sangat penting yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Hal tersebut dapat dilihat dengan jelas pada gambar berikut ini.
Perencanaan
 
Refleksi
Pelaksanaan
                                                       
Pengamatan
                                         SIKLUS I

Perencanaan
 
Pelaksanaan
Refleksi
                                         SIKLUS II
Pengamatan
 
?
                               

Gambar 1. Bagan siklus Penelitian Tindakan Kelas (PTK)[4]

B.       Tempat  Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Parepare untuk mata pelajaran bahasa Arab kelas XI IPA1.


C.  Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli hingga September 2012.

D.  Subjek dan Objek Penelitian
Dalam PTK ini, yang menjadi subjek penelitian adalah siswa kelas XI IPA1 yang terdiri atas 24 peserta didik dengan komposisi perempuan 13 peserta didik dan laki-laki 11 peserta didik.[5]
Sedangkan objek penelitian dalam penelitian ini dibedakan atas dua macam, yaitu:
1.      Objek yang mencerminkan proses yaitu tindakan yang dilakukan berikut perangkat-perangkat pendukungnya ( penggunaan power point ).
2.      Objek yang mencerminkan produk yaitu masalah pembelajaran yang diharapkan mengalami peningkatan dan tanggapan peserta didik terhadap pembelajaran yang dilakukan ( motivasi belajar )

E.  Persiapan PTK
Sebelum melaksanakan PTK ini maka akan dibuat berbagai input instrumental yang akan digunakan untuk memberi perlakuan dalam PTK, yaitu
1.    Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
2.    Lembar pengamatan prilaku peserta didik dalam proses pembelajaran pada siklus 1 dan 2
3.    Design Materi dalam bentuk power point

F.       Sumber Data
Sumber data dalam PTK ini yaitu peserta didik dengan tujuan untuk mendapatkan data tentang motivasi belajar dan aktivitas peserta didik dalam proses pembelajaran.

G.      Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data
Dalam PTK umumnya dikumpulkan jenis data kuantitatif dan data kualitatif. Data tersebut digunakan untuk menggambarkan perubahan yang terjadi.[6] Dalam Penelitian ini, instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah:
1.    Observasi
Teknik ini dipergunakan untuk mengumpulkan data tentang aktivitas peserta didik dalam pembelajaran dan implementasi pembelajaran bahasa Arab berbasis Power Point. Observasi ini dilaksanakan dengan menggunakan lembar observasi untuk mengukur tingkat motivasi belajar peserta didik dalam proses pembelajaran bahasa Arab.

2.    Kuesioner
Teknik ini untuk mengetahui motivasi belajar peserta didik dalam pembelajaran bahasa Arab berbasis Power Point. Kuesioner ini dilaksanakan dengan membagikan angket kepada peserta didik setiap pembelajaran berakhir.
3.    Treatment
Treatmen adalah memberikan perlakuan kepada peserta didik untuk mengetahui peningkatan motivasi belajar dalam pembelajaran bahasa Arab. Adapun bentuk perlakuan yang akan diberikan dalam penelitian ini adalah dalam bentuk Penelitian Tindakan Kelas ( PTK ). Seperti yang telah dijelaskan bahwa PTK ini menggunakan dua siklus dan masing-masing siklus dilaksanakan dengan satu kali tatap muka. Dengan demikian, dalam PTK ini ada dua kali tatap muka. Treatmen dalam setiap pertemuan dapat dilihat berikut ini:
a.    Pertemuan pertama
1)      Membuka pelajaran dengan appersepsi
2)      Menyebutkan pokok bahasan dengan indikator pembelajaran
3)      Menjelaskan pelajaran dengan PowerPoint
4)      Mengadakan pendalaman materi dengan feed beck test
5)      Membuat kesimpulan materi
6)      Membagikan lembar kuesioner untuk dijawab oleh setiap peserta didik
7)      Menutup pelajaran dengan memotivasi belajar di rumah
b.      Pertemuan kedua
1)      Membuka pelajaran dengan appersepsi
2)      Membacakan pokok bahasan dengan indikator pembelajaran
3)      Menjelaskan pelajaran dengan PowerPoint
4)      Mengadakan pendalaman materi dengan feed back
5)      Membagikan lembar kuesioner untuk dijawab oleh setiap peserta didik
6)      Mengadakan pengamatan terhadap prilaku peserta didik
7)      Menutup pelajaran dengan memotivasi belajar di rumah

H.      Teknik Analisis Data
Data yang dikumpulkan pada setiap kegiatan observasi dari pelaksanaan siklus penelitian dianalisis secara deskriptif dengan menggunakan teknik prsentase untuk melihat kecenderungan yang terjadi dalam proses pembelajaran.
1.      Implementasi pembelajaran berbasis power point: dengan menganalisis tingkat keberhasilan implementasi media power point kemudian dikategorikan dalam klasifikasi berhasil, kurang berhasil, dan tidak berhasil.
2.      Motivasi belajar: dengan menganalisis nilai rata-rata dari kuesioner kemudian  dikategorikan dalam klasifikasi tinggi, sedang, dan rendah.
3.      Aktivitas peserta didik dalam proses belajar mengajar bahasa Arab (BA): dengan menganalisis tingkat respon peserta didik dalam proses pembelajaran BA melalui observasi. Kemudian dikategorikan dalam klasifikasi tinggi, sedang, dan rendah.
Data yang bersifat kualitatif berupa informasi, analisisnya diuraikan dalam bentuk kalimat. Sedangkan data yang bersifat kuantitatif, penulis menggunakan perumusan untuk menafsirkan data sebagai berikut
P =  x 100%
Keterangan :
P          : Presentase jawaban
F          : Frekuensi jawaban responden
N         : Jumlah responden
100%   : Bilangan tetap[7]

I.         Kriteria Keberhasilan
Yang menjadi kriteria keberhasilan dalam PTK ini adalah jika nilai rerata variabel yang diukur oleh kuesioner motivasi (variabel motivasi) mencapai nilai rerata 80% dari 100%.

J.        Prosedur Penelitian
Prosedur yang akan dilaukan dalam penelitian ini sebagaimana yang telah digambarkan pada siklus sebelumnya. Penelitian tindakan ini direncanakan terdiri dari dua siklus, kedua siklus ini mmerupakan rangkaian kegiatan yang saling berkaitan, artinya pelaksanaan siklus II merupakan lanjutan dan perbaikan berdasarkan refleksi siklus I.
Setiap siklus rencana dilaksanakan satu kali pertemuan. Tiap siklus dilaksanakan sesuai dengan perubahan yang ingin dicapai seperti yang telah didesain dalam faktor yang diselidiki. Pelaksanaan kedua siklus tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
Siklus I
1.    Perencanaan
 Pada tahap ini, langkah-langkah yang akan dilakukan peneliti adalah sebagai berikut:
a.    Menelaah materi pelajaran bahasa Arab semester I kelas XI MAN 2 Parepare Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.
b.    Membuat rencana pengajaran.
c.    Membuat format observasi untuk mengamati kondisi pembelajaran dikelas ketika pelaksanaan tindakan sedang berlangsung.
d.   Membuat angket untuk mengetahui motivasi belajar peserta didik dalam pembelajaran berbasis power point.
e.    Membuat alat atau media yang diperlukan dalam pembelajaran
2.    Pelaksanaan
 Secara umum tindakan yang dilaksanakan secara operasional dijabarkan sebagai berikut:
a.    Di awal kegiatan pembelajaran pendidik menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan perlengkapan belajar yang dibutuhkan, memberikan tema dan memotivasi peserta didik untuk terlibat dalam kegiatan pembelajaran yang telah ditentukan.
b.    Pendidik menyampaikan materi pelajaran malalui media yang telah dibuat.
c.    Pendidik menggunakan metode pembelajaran yang sesuai dengan media.
3.    Observasi dan evaluasi
 Pada tahap ini dilaksanakan observasi terhadap pelaksanaan tindakan dengan menggunakan lembar observasi yang telah dibuat serta melaksanakan evaluasi. Observasi ini dilakukan pada saat kegiatan belajar mengajar berlangsung. Dari observasi dicatat dalam lembar observasi yang meliputi kehadiran, kektifan dalam kegiatan belajar, baik bertanya atau memberi tanggapan, menjawab pertanyaan lisan dari pendidik ataupun teman dan mempresentasikan hasil belajar.
Selanjutnya evaluasi dilakukan pada akhir siklus I dengan memberikan quesioner, hal ini dimaksudkan untuk mengetahui tingkat motivasi belajar peserta didik dalam pelajaran bahasa Arab selama proses siklus I.
4.    Refleksi
Data hasil observasi dan evaluasi dikumpulkan dan dianalisis. Dengan demikian peneliti dapat melihat merefleksikan diri , apakah tindakan yang telah dilakukan dapat meningkatkan motivasi belajar bahasa Arab peserta didik.


Siklus II
Siklus II dilaksanakan seperti dengan siklus I yaitu satu kali pertemuan. Pada dasrnya hal yang dilakukan pada siklus II ini adalah mengulang kembali tahap-tahap yang dilakukan pada siklus I. Disamping itu, juga dilakukan sejumlah rencana baru sesuai dengan pengalaman dan hasil refleksi yang diperoleh pada siklus I.
1.    Perencanaan
Rencana kegiatan yang dilaksanakan pada siklus II yaitu:
a.    Merancang tindakan berdasarkan hasil refleksi tindakan siklus I.
b.    Membuat rencana pembelajaran berbasis media power point.
c.    Membuat lembar observasi dan kuesioner siklus II.
2.    Pelaksanaan
 Pada siklus II ini dilakukan langkah-langkah yang relatif sama dengan siklus I dengan mengadakan beberapa perbaikan yang dipandang perlu.
a.         Pelaksanaan bentuk tindakan akhir yang diharapkan dapat memperbaiki kekurangan pada siklus I.
b.        Dalam penggunaan power point, materi lebih diperinci disertai penjelasan yang lebih jelas.
c.         Dalam pembelajaran, pendidik sekali-kali memberikan motivasi mengenai pentingnya bahasa Arab.
d.        Diadakan pengamatan selama pelajaran berlangsung.
e.         Pada akhir siklus, dibagikan kuesioner sebagaialat evaluasi
f.         Diadakan refleksi akhir dari semua tindakan yang telah dilakukan.
3.    Observasi dan evaluasi
Secara umum, tahap observasi dan evaluasi pada siklus II hampir sama dengan yang dilaksanakan pada siklus I dengan mengadakan perbaikan yang dipandang perlu. Dalam siklus ini dianalisis untuk menentukan hasil dan pencapaian tujuan akhir dari penelitian ini.
4.    Refleksi
Data hasil observasi dan evaluasi dalam siklus ini dianalisis untuk menentukan keberhasilan dan kegagalan yang dicapai tujuan akhir dari penelitian ini.




[1] Mansur Muslich, Melaksanakan PTK itu Mudah, (Jakarta: Bumi Aksara, 2009), h.8

[2] Ibid

[3] Emzir, Metodologi Peneletian Pendidikan Kuantitatif & Kualitatif, cet.V, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2011), h.235
[4] Suharsimi Arikuntoro, dkk, Penelitian Tindakan Kelas, (Jakarta: Bumi Aksara, 2007), h.16

[5] Sumber: Data Peserta Didik MAN 2 Parepare Tahun Ajaran 2012-2013

[6] Kunandar, Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas Sebagai Pengembangan Profesi Guru, cet.V, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2010), h.123

[7] Nazir, Metode Penelitian, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1988), h.437




[1] Y. Miarso, dkk, Teknologi Komunikasi Pendidikan: Pengertian dan Penerapannya di Indonesi, (Jakarta: CV. Rajawali, 1984), h.46

[2] Asnawir dan Basyiruddin Umar, Media Pembelajaran, cet. I; (Jakarta; Ciputat Perss, 2002), h.11

[3] Ibid

[4]Abdul Wahab Rosyidi, Media Pembelajaran Bahasa Arab, (Malang: UIN-Malang Press,2009), h. 25-26


[5] Ibid, h. 27-28

[6]Lihat BlognyaTasik, Pengertian Power Point, (online), (http://tasik-blog.blogspot.com/2009/01/pengertian-power-point.html), diakses pada tanggal 24 Januari 2012

[7]Lihat Anggis’s site, Pengertian dan Sejarah Power Point, (online), http://anggiii.multiply.com/journal/item/11/Pengertian-dan-sejarah-Microsoft-PowerPoint?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem), diakses pada tanggal  24 Januari 2012

[8]Lihat Anggis’s site, Pengertian dan Sejarah Power Point, (online), http://anggiii.multiply.com/journal/item/11/Pengertian-dan-sejarah-Microsoft-PowerPoint?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem), diakses pada tanggal  24 Januari 2012

[9] Abdul Wahab Rosyidi, Media pembelajaran Bahasa Arab, cet.I, (Malang: UIN-Malang Press, 2009), h.106

[10] Lihat Finder Only, Pengertian Power Point, (online), (http//finder.blogpot.com), diakses pada tanggal 24 Januari 2012

[11]Lihat Finder Only, Pengertian Power Point, (online), (http://finderonly.com/PowerpointSearchEngine/), diakses pada tanggal 24 Januari 2012

[12] Syaiful, Konsep dan Makna Pembelajaran, Cet IX, (Bandung: Alfabet, 2011), h.61



[13] Acep Hermawan, Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab, Cet I, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya offset, 2011), h.168

[14] Mukhlish Fuadi, Otomatis Harakat Bahasa Arab menggunakan pemrograman Java, cet.I, (Malang: UIN Maliki Press, 2010), h.9-10

[15] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, edisi ke-2, cet ke-9, (Jakarta: Balai Pustaka, 1997), h.593

[16] Ibid


[17] Hamzah B. Uno, Teori Motivasi & Pengukurannya Analisis di Bidang Pendidikan, cet.VI, (Jakarta: Bumi Aksara, 2010), h.3

[18] Yudrik Jahja, Psikologi Perkembangan, Cet.I, (Jakarta: kencana, 2011), h.64-65

[19] Ibid, Judrik Jahja, h. 65


[20] Ibid, h.66

[21] Nurlianta Masa, Peranan Buku Paket Dalam Upaya Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa di        MI DDI Lapeo Kec. Campalagian Kab.Polewali Mandar, (Skripsi STAIN Parepare, 2010), h.19
[22] [22] A. Malik Fadjar, Holostika Pemikiran Pendidikan, (Jakarta: Rajawali Press, 2005), h.188

[23] Dimyati., Mudjiono, Belajar dan Pemblajaran, cet.IV, (Jakarta: Asdi Mahasatya, 2009),  h.94


[24]Ibid h.94-95

[25] Yudrik jahja, Lokc Cit h. 358

[26]Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar, Cet. Ke-10, (Jakarta: Bumi Aksara, 2009), , h. 161-162

1 komentar: